• Senin, 29 November 2021

Siraman Gong Kyai Pradah Jadi Tradisi Berebut Berkah

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 17:41 WIB
Sejumlah warga berebut air bekas jamasan atau air cucian Gong Kyai Pradah. Gong Kyai Pradah ketika hendak dimandikan. (aziz/memo)
Sejumlah warga berebut air bekas jamasan atau air cucian Gong Kyai Pradah. Gong Kyai Pradah ketika hendak dimandikan. (aziz/memo)

Blitar, koranmemo.com - Ritual jamasan Gong Kyai Pradah di Sutojayan, Kabupaten Blitar tetap menjadi magnet warga untuk datang. Mereka datang dari sejumlah daerah di Jawa Timur untuk sekadar ngalap berkah, Kamis (21/10). 

Ya, meski digelar sederhana, upacara tetap menyedot perhatian. Warga mengikuti prosesi demi prosesi dengan harapan agar mendapatkan keberkahan. 

Ritual jamasan siraman Gong Kyai Pradah digelar dua kali dalam setahun yakni pada bulan Syawal pada bulan Maulud atau 12 Rabiul Awal. Ritual ini adalah memandikan gong yang dulunya menjadi pusaka dan berkekuatan mistis. 

Sejak pukul 07.00, ratusan warga sudah berkumpul di Alun-Alun Lodoyo yang masuk wilayah Kecamatan Sutojayan. Mereka datang bergerombol dari sejumlah daerah. Selain Blitar ada pula dari Malang, Tulungagung, Jombang, Surabaya hingga luar Jawa.

Mereka yang datang adalah warga yang sudah hafal dengan jadwal pelaksanaan ritual. "Kalau saya sama anak tahun ini. Tahun lalu tidak bisa datang karena ada pandemi," kata Sulastri, asal Surabaya.

Sulastri merupakan satu di antara ratusan warga yang mengikuti ritual jamasan. Sebelum pandemi, Alun-Alun Lodoyo dipenuhi dengan lautan manusia. Ribuan pasang mata mengikuti ritual. Puncaknya yakni berebut air jamasan yang dipercaya membawa berkah.

Bagi yang belum mendapatkan jodoh bakal mendapatkan jodoh, ada pula yang meyakini airnya jika dibuat membasuh wajah bakal awet muda. Ada pula airnya untuk tolak bala. 

Ritual diawali dengan menampilkan tari-tarian. Selanjutnya mengeluarkan Gong Kyai Pradah dari tempat penyimpanan tak jauh dari Alun-Alun Lodoyo. Gong itu nantinya bakal dimandikan di hadapan para tokoh adat dan pejabat.

Usai dimandikan menggunakan sesaji atau bunga khusus, selanjutnya dipukul beberapa kali. Ketika memukul gong tokoh adat pun mengatakan awon nopo sae, awon nopo sae. Spontan warga dan undangan kompak menjawab sae.

Usai dibersihkan atau dijamasi, gong pun disimpan kembali. 
Nah, puncak acara yang ditunggu adalah memperebutkan air bekas cucian yang dipercaya membawa berkah.

Halaman:

Editor: Koran Memo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini Kata BKD Soal ASN Pemkot Blitar yang Terima Bansos

Jumat, 26 November 2021 | 17:57 WIB

Sembilan ASN Masuk Daftar Penerima Bansos 

Kamis, 25 November 2021 | 21:30 WIB

Gagal Menanjak, Truk Boks Nyaris Nyemplung Jurang

Rabu, 24 November 2021 | 19:12 WIB

Hujan Lebat Robohkan Rumah di Kanigoro 

Rabu, 17 November 2021 | 07:06 WIB
X