• Rabu, 8 Desember 2021

Drama Tari Hamemayu Rahayu Tlatah Girah dari Kabupaten Kediri Memukau Pengunjung TMII Jakarta

- Senin, 25 Oktober 2021 | 15:11 WIB
Pertunjukan drama tari di Anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII) oleh kesenian Disparbud Kabupaten Kediri Minggu malam. (Istimewa)
Pertunjukan drama tari di Anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII) oleh kesenian Disparbud Kabupaten Kediri Minggu malam. (Istimewa)

Kediri, koranmemo.com - Penampilan Sendratari Hamemayu Rahayu Tlatah Girah di anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Minggu (24/10) malam memukau pengunjung.

Pagelaran dramatari ini melengkapi pertunjukan seni suara, tari, lagu daerah ini dipersembahkan Tim Kesenian dari Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Kediri.

Adi Suwignyo, Kepala Disparbud Kabupaten Kediri, mengatakan, selain parade pentas seni asli Kabupaten Kediri juga disertakan pameran produk unggulan. “Kegiatan ini merupakan agenda tahunan,” jelasnya.

Ditambahkan Wignyo, kegiatan ini dalam rangkaian memperkenalkan dan mempromosikan potensi seni budaya daerah dan pameran produk unggulan daerah.

“Dua hari tim kami menggelar parade seni dan pameran produk unggulan dengan harapan potensi wisata, seni budaya Kabupaten Kediri semakin dikenal,” katanya.

Sementara itu, Sugeng Nur Istiyani S.Sn, sutradara dan penulis lakon Hamemayu Rahayu Tlatah Girah, mengatakan, kisahnya seorang wanita baya bernama Nyai Girah yang juga dikenal dengan Nyai Calon Arang. “Semasa hidup Nyai Girah hanya ditemani anaknya Retno Manggali dan suami Nyai Girah sudah meninggal,” katanya.

Ditambahkan Sugeng, perempuan ini menjadi tokoh tetua atau suhu di wilayah Girah atau saat ini dikenal dengan nama Gurah. Nyai Girah marah besar dan murka ketika Retno Manggali yang melamar sebagai prajurit Kahuripan ditolak oleh Raja Kahuripan.

“Sementara Raja Kahuripan Prabu Erlangga mendengar murkanya Nyai Girah dan meminta ke Empu Barada untuk meredakan Murka Nyai Girah,” katanya.

Dijelaskan Sugeng, mendapat perintah raja, Mpu Barada meminta Baheula muridnya menyusup ke Girah dan mengambil hati Retno Manggali.

“Retno Manggali yang terpikat dengan Baheula, diminta mengambil kitab ajian Nyai Girah. Alhasil kelemahan Nyai Girah diketahui dan amukan Nyai Girah bisa dipadamkan, meski Prabu Erlanga sempat ikut berperan melawan amukan Nyai Girah,” katanya.

Pada akhirnya, keganasan Nyai Girah bisa dipadamkan Mpu Barada dan atas kebijakan Prabu Erlangga, Baheula dinikahkan dengan Retno Manggali dan diberi amanah untuk memimpin wilayah Girah.

Reporter: Bakti Wijayanto

Editor: Gimo Hadiwibowo 

Editor: Koran Memo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

UMK Kota Kediri Naik, Cuma Segini Ternyata

Selasa, 7 Desember 2021 | 19:55 WIB

Lewat CTTC 2021, Pemkot Kediri Optimis Cetak Atlet 

Minggu, 5 Desember 2021 | 20:14 WIB

Kecelakaan Tunggal di Plemahan, Pelajar Tewas

Minggu, 5 Desember 2021 | 19:55 WIB
X