• Kamis, 20 Januari 2022

Lika-liku Dibalik Keindahan dan Kekayaan Hutan Mangrove Pancer Cengkrong

- Sabtu, 13 November 2021 | 07:00 WIB
Ketua Pokmaswas Imam Syafiudin saat menunjukkan habitat mangrove. (angga/memo)
Ketua Pokmaswas Imam Syafiudin saat menunjukkan habitat mangrove. (angga/memo)

Dulu Diambang Kepunahan Kini Jadi Mata Pencaharian
Trenggalek, koranmemo.com - Hutan Mangrove Pancer Cengkrong Trenggalek menyuguhkan panorama alam indah dan menyimpan kekayaan alam berupa kerang hingga kepiting bakau. Dibalik hingar bingar pesona alam itu, menyimpan cerita pilu. Habitat yang dulunya diambang kepunahan itu justru berbalik menjadi mata pencaharian warga. Bagaimana lika-likunya ?

Hutan bakau yang terletak di Desa Karanggandu Kecamatan Watulimo itu kini berubah wajah. Tanaman mangrove yang sebelumnya tidak terlalu terurus kini tak lagi dipandang sebelah mata. Pelan tapi pasti, masyarakat mulai menyadari akan potensi yang bisa dikembangkan untuk meraup pundi-pundi rupiah.

Polesan-polesan untuk mengubah tampilan itu tak lepas dari dukungan semua pihak, utamanya keberadaan kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas). Pokmaswas menjadi salah satu ujung tombak untuk memberikan edukasi pada masyarakat agar tak sembarangan dalam mengeruk kekayaan alam. Sebab, ada cara yang lebih elegan tanpa mengesampingkan kelestarian alam.

Pasalnya, sebelum menjadi wisata konservasi hutan mangrove pada 2012, kondisi hutan bakau yang terletak di pesisir selatan Trenggalek itu cukup memprihatinkan. Saat itu banyak yang memanfaatkan tanaman itu tanpa memperhatikan dampak buruknya. Alhasil, tanaman yang menjadi bagian ekosistem laut itu sempat mengalami kelangkaan.

Baca Juga: Peringati HKN, Wali Kota Kediri Apresiasi Nakes Saat Pandemi

Baca Juga: Terlibat Peredaran Narkoba, Dua Pria Serabutan Asal Kediri Dibui

“Tumbuhan mangrove dulunya diambang kepunahan, itu terjadi pada tahun kisaran 2002-2011,” kata Ketua Pokmaswas, Imam Syafiudin.

Eksistensi tanaman mangrove yang sempat melangka itu bukannya tanpa imbas. Selain mengakibat terjadinya abrasi atau pengikisan tanah akibat air laut, habitat asli berupa kepiting bakau dan kerang bakau lambat laun juga mulai menghilang. Warga pun mulai kesulitan untuk mencari hewan konsumsi di hutan bakau tersebut.

“Padahal kedua sumber daya alam itu masuk salah satu mata pencaharian masyarakat sekitar,” imbuhnya.

Sulitnya menemukan habitat di tanaman mangrove itu lambat laun membuat masyarakat mulai menyadari akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Pro dan kontra pun tak terelakkan. Dengan gigih Iman dan penggiat lainnya menyadarkan masyarakat agar tak melakukan eksploitasi mangrove. Sebab, tanaman mangrove menjadi tempat plankton.

“Lambat laun kebiasaan masyarakat mengeksplorasi mangrove mulai ditinggalkan,” ujarnya.

Alhasil selama 10 tahun wisata konservasi itu berdiri, tumbuhan mangrove itu sudah menjalar hingga seluas 6 hektar (ha) dan berkembang hingga memiliki 42 jenis tumbuhan. Hasilnya kepiting bakau dan kerang bakau tumbuh dengan subur. Dampaknya, masyarakat tak ada yang mengeluhkan kesulitan mencari dua hewan tersebut.

“Kami memberikan obat perangsang agar tumbuhan mangrove bisa berkembang biak. Kalau untuk kepiting disini ada beberapa jenis, biasanya kepiting bakau, hijau, dan lain-lain,” kata dia.

Baca Juga: BPCB Jatim Mulai Ekskavasi Candi Songgoriti

Lika-liku dalam melestarikan hutan bakau itu mulai membuahkan hasil. Dari sisi ekonomis, masyarakat bisa mendapat penghasilan tambahan baik dari sumber alamnya maupun sektor kepariwisataan yang dikelola. Selain itu lokasi itu juga menjadi sarana edukasi untuk objek penelitian mahasiswa dari berbagai daerah.

“Diantaranya adalah mahasiswa dari Malang, Kediri, kemudian Tulungagung dan lain sebagainya. Mereka pernah meneliti (hutan mangrove) disini,” kata Imam.

Namun sayangnya saat ini objek wisata itu belum bisa dikunjungi lantaran pandemi Covid-19. Imam berharap pandemi segera berakhir sehingga kawasan wisata kembali dibuka dan bisa menggairahkan ekonomi seperti sebelum pandemi.

Reporter : Angga Prasetya

Editor : Della Cahaya

Editor: Koran Memo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Waspada Varian Omicron, Ini Kata Bupati Trenggalek

Senin, 17 Januari 2022 | 18:16 WIB

Targetkan 2022 Tera Ulang Lebih dari 9 Ribu Sasaran

Minggu, 16 Januari 2022 | 10:33 WIB

Ini Keindahan Trenggalek yang Menggiurkan Investor

Minggu, 9 Januari 2022 | 12:00 WIB
X