• Kamis, 20 Januari 2022

Festival Sinema Prancis Kerjasama dengan Mola, Tayangkan Petualangan Angkasa hingga Pengembaraan Abad Terakhir

- Senin, 15 November 2021 | 15:26 WIB
Festival Sinema Prancis (FSP) edisi ke-23 digelar sebulan, 1 – 30 November 2021. (istimewa)
Festival Sinema Prancis (FSP) edisi ke-23 digelar sebulan, 1 – 30 November 2021. (istimewa)

Surabaya, koranmemo.com - Festival Sinema Prancis (FSP) edisi ke-23 digelar sebulan, 1 – 30 November 2021. Temanya: Resolosi, Beradaptasi Mencari Bentuk Baru.

Pada pembukaan Festival Sinema Prancis ini, disajikan dengan empat film petualangan angkasa.

Penayangan Festival Sinema Prancis ini menjadi 100 persen digital karena bekerjasama dengan platform video on demand Mola.

Aksesnya diberikan gratis, terbatas kepada publik Indonesia untuk menyaksikan film-film Prancis pilihan, mulai fiksi, seri, dan dokumenter.

Baca Juga: Perempuan Bayi Mengapung di Sungai Kutuk Gemparkan Warga Sukun Kota Malang

Baca Juga: Masuk Nominasi BWF Awards, Greysia/Apriyani Tanpa Beban Tampil di Indonesia Masters

Pembukaannya, kata Pramenda Krishna, Penanggung Jawab Budaya dan Komunikasi IFI Surabaya, Senin (15/11), menyajikan empat film petualangan luar angkasa tentang astronaut Prancis, Thomas Pesquet.

Judulnya, 16 Sunrises, The Fabric of A Hero, L’envoyé spatial, dan Dans les yeux de Thomas Presquet.

Film disutradarai Pierre-Emmanuel Le Goff, menelusuri kembali misi perdana sang astronaut ke Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Dilanjutkan sajikan film-film Prancis terbaik lainnya dari berbagai genre yang terdiri dari 13 film dan 1 film seri.

Karya Portrait de la jeune fille en feu (Portrait of A Lady on Fire) karya sutradara de Céline Sciamma bersama Adèle Haenel.

Sebuah kisah membara yang singkat dan intens antara seorang pelukis dan modelnya.

Les misérables karya sutradara Ladj Ly, pemenang Penghargaan Juri Festival Film Cannes dan Film Terbaik Penghargaan César, adalah sebuah kisah kronologis mendalam tentang Prancis kontemporer.

Baca Juga: Cara Membuat Croffle Hanya Dengan 2 Bahan, Mudah dan Cepat

Roubaix, une lumière (Oh, Mercy) dari sutradara Arnaud Desplechin, menelusuri sebuah kasus penuh teka-teki yang terjadi di Prancis Utara, antara drama sosial penuh gaya dan film detektif.

Film Rebelles (Rebels) dari sutradara Allan Mauduit, dibintangi Cécile de France, Yolande Moreau dan Audrey Lamy.

Ini adalah sebuah komedi aneh yang menampilkan tiga perempuan dengan nuansa humor yang menantang pakem.

Lalu L’Odysée (The Odyssey) karya sutradara Jérome Salle, dibintangi Lambert Wilson, Audrey Tautou dan Pierre Niney, adalah film biografi yang menyentuh tentang eksplorator Prancis, Jacques-Yves Cousteau, dengan pesan ekologi yang tajam.

Karya Les vacances de monsieur Hulot (Monsieur Hulot’s Holiday) akan memuaskan para pecinta film klasik.

Mahakarya Jacques Tati yang dibuat pada 1951, adalah sebuah fabel sarkastik tentang keterikatan manusia pada kapitalisme dan modernitas.

Film Jeux d’enfants (Love Me If You Dare) karya sutradara Yann Samuell menelusuri kisah romantis sepasang kekasih yang tidak punya rasa takut, dibintangi debut duo Marion Cotillard et Guillaume Canet.

Un amour impossible (An Impossible Love) dari sutradara Catherine Corsini bersama Virginie Efira dan Niels Schneider. Sebuah film fiksi intim dan politis tentang perjuangan seorang ibu pemberani di Prancis berlatar tahun 50-an.

Kemudian M. et Mme Adelman (Mr. & Mrs. Adelman) dibintangi Nicolas Bedos dan Doria Tillier. Sebuah film tentang pengembaraan sepasang suami istri yang luar biasa, melintasi berbagai kisah dan sejarah dari abad terakhir.

Film Le daim (Deerskin) disutradarai oleh Quentin Dupieux, menampilkan Jean Dujardin dan Adèle Haenel. Film komedi yang memadukan thriller dan parodi, mengisahkan seorang pembunuh berantai yang terobsesi dengan jaket kulitnya dan menjadi karakter sinematografis.

Film En liberté (The Trouble with You) disutradarai oleh Pierre Salvadori, adalah sebuah film komedi polisi yang puitis dan luar biasa, menampilkan Pio Marmai, Adèle Haenel dan Vincent Elbaz. Au revoir Là-Haut (See You Up There) karya sutradara Albert Dupontel. November 1919.

Dua orang prajurit yang lolos dari kematian – yang satu seorang tukang gambar jenius dan yang lainnya seorang mantan akuntan – memutuskan untuk melakukan sebuah penipuan monumental tentang peringatan para pahlawan.

Le sens de la fête (C’est la vie!) karya sutradara Olivier Nakache dan Eric Toledano. Cerita pada sebuah pesta pernikahan, lebih tepatnya perayaan di malam hari.

Para penonton akan mengikuti kesibukan belakang layar melalui mata para protagonisnya, mulai dari petugas katering, fotografer, penyanyi, tukang masak, pasukan pramusaji, dan sebagainya.

Film seri OVNI(S), produksi Canal+ bersama Melvil Poupeau, mengajak penonton menyelami tahun 70-an, pada era Unidentified Aerospace Phenomena Study Group.

Editor: Gimo Hadiwibiwo

Editor: Koran Memo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Wali Kota Surabaya Bersama DPRD Tinjau PTM di Sekolah

Senin, 10 Januari 2022 | 13:43 WIB

Pelantikan Massal 1.400 Pejabat Pemkot Surabaya

Jumat, 31 Desember 2021 | 19:06 WIB
X