• Senin, 29 November 2021

Isma Rofi, Penggagas Kampung Batok Bertahan di Tengah Impitan Pandemi Covid-19

- Rabu, 24 November 2021 | 09:49 WIB
Isma Rofi dengan produkmya kerajinan berbahan baku batok kelapa. (Aziz/memo)
Isma Rofi dengan produkmya kerajinan berbahan baku batok kelapa. (Aziz/memo)

Blitar, Koranmemo.com - Pandemi Covid-19 benar-benar membuat pengrajin ikon Kota Blitar kelimpungan. Salah satunya penggagas kerajinan berbahan dasar batok kelapa.

Yakni Isma Rofi, warga Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar. Dengan sekuat tenaga, kini dia berusaha bangkit.

Di Kelurahan Tanjungsari ada salah satu sentra produsen kerajinan yang sudah punya nama. Kampung Batok, begitu sebutannya dan sudah menjadi branding ikon kerajinan.

Di kelurahan ini ada sejumlah warga yang memproduksi kerajinan bahan baku batok kelapa. Batok kelapa dibuat tas, aksesori ruang tamu dan lain sebagainya.

Baca Juga: Stok Darah PMI Kota Madiun Melimpah

Baca Juga: Antisipasi Bencana, Pemkab Ngawi Dirikan Posko Tanggap Darurat

Nah, berbicara soal Kampung Batok tak lepas dari kiprah Isma Rofi. Dia adalah pionir atau pelopor utama kerajinan. "Ya beginilah kondisinya. Harus mulai dari nol. Modal juga tak banyak tetapi kami tetap berusaha untuk tetap eksis," katanya seraya menghela nafas panjangnya.

Usaha kerajinan batok kelapa dimulai pada 2009 lalu. Terinspirasi karena banyaknya batok kelapa yang kerap hanya untuk bahan pembakaran di dapur.

Di tangan kreatif Rofi, akhirnya disulap menjadi kerajinan apik. Buah karyanya pun sempat diminati pedagang luar Jawa.

"Tetapi sejak ada pandemi kami sempat terkena dampaknya. Apalagi tak bisa mengirim produk akibat kena pembatasan kegiatan," keluhnya.

Ketika didera pandemi, akhirnya pria berusia 46 tahun ini pun mengambil keputusan berat. Karena terus merugi akhirnya memutuskan untuk stop produksi. Untuk bertahan hidup, hanya mengandalkan produk stok saja.

"Iya sempat berhenti. Kalau diteruskan juga berisiko. Penjualan sepi karena dampak PPKM, tidak bisa kirim dan pemasukan pun seret," katanya.

Kisah sedih itu dialami ketika ada pandemi mulai akhir 2019 hingga awal 2021.

Dirinya sempat optimistis pada awal 2021 kondisi bisa normal. Tetapi apa kata, kondisi tetap berubah.

Angka kasus Covid-19 pun meninggi. Otomatis kiriman pun sempat mentok. Para wisatawan yang biasanya kerap mampir di Kampung Batok pun sepi mampring.

"Penyebabnya karena ada PPKM. Kan wisatawan dari luar kota juga tak bisa ke Blitar. Itu salah satu penyebabnya," katanya.

Akibatnya, kata Rofi, Kampung Batok pun sepi. Tak ada suara gerinda memoles batok. Praktis Kampung Batok pun sepi mampring.

Padahal jika kondisi normal, wisatawan lalu lalang di kampung. "Penghasilan warga pun seret," jelasnya.

Kini satu-satunya cara untuk meyakinkan pasar adalah sosialisasi bahwasanya Kampung Batok masih ada. Meski tak seramai dulu.

Sosialisasi itu melalui getok tular ke penjual hingga ke medsos. Kerja keras Rofi mulai membawa hasil.   

Oktober  menerima pesanan produk batok kelapa. Pesanan  datang dari Papua dan Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT). Jumlah produk yang dipesan tidak banyak.

"Belum bisa melayani pesanan dalam jumlah banyak. Kan sekarang kondisinya tenaga terbatas. Hanya saya yang mengerjakan mulai awal pengerjaan dan penyelesaian," katanya.

Reporter : Abdul Aziz Wahyudi
Editor : Achmad Saichu

Editor: Koran Memo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini Kata BKD Soal ASN Pemkot Blitar yang Terima Bansos

Jumat, 26 November 2021 | 17:57 WIB

Sembilan ASN Masuk Daftar Penerima Bansos 

Kamis, 25 November 2021 | 21:30 WIB

Gagal Menanjak, Truk Boks Nyaris Nyemplung Jurang

Rabu, 24 November 2021 | 19:12 WIB

Hujan Lebat Robohkan Rumah di Kanigoro 

Rabu, 17 November 2021 | 07:06 WIB
X