Tanah Longsor Mengancam, Satgas Bencana Kabupaten Trenggalek Disiagakan

- Rabu, 24 November 2021 | 17:15 WIB
Petugas gabungan Polsek Bendungan membersihkan material longsor. (angga/memo)
Petugas gabungan Polsek Bendungan membersihkan material longsor. (angga/memo)

Trenggalek, koranmemo.com - Bencana alam tanah longsor menimpa rumah Sutikno warga RT 06 RW 02 Desa Depok Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek.

Polres Trenggalek menyiagakan Satgas Bencana untuk mengantisipasi bencana alam tanah longsor susulan yang bisa terjadi kapan saja.

Kapolsek Bendungan, AKP Bambang Purwanto mengatakan, bencana alam tanah longsor kembali terjadi pada Selasa (23/11), sekitar pukul 21.00 WIB.

Meskipun tidak ada korban jiwa, namun kerugian materiil akibat bencana itu ditaksir mencapai jutaan rupiah.

Baca Juga: Hujan Lebat Disertai Angin Kencang di Nganjuk, Berpotensi Pohon Tumbang

Baca Juga: Disabilitas di Tulungagung Banyak yang Berwirausaha

“Korban jiwa tidak ada. Namun rumah bersangkutan bagian dindingnya jebol usai dihantam longsor,” katanya, Rabu (24/11).

Bambang menambahkan, petugas gabungan langsung diterjunkan ke lokasi setelah kejadia longsor tebing setinggi 4 meter dan lebar 5 meter tersebut.

Tim satgas bencana diterjunkan untuk membersihkan material longsor bersama masyarakat setempat.

“Selain membersihkan material longsor, kami juga memberikan bantuan sembako untuk meringankan beban korban terdampak longsor. Kami himbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan memasuki musim penghujan yang rawan terjadi longsor,” pungkasnya.

Longsor yang terjadi di Trenggalek bukan pertama kalinya, setidaknya ada sekitar 30 rumah rusak terdampak longsor.

Jumlah itu berdasarkan catatan BPBD Trenggalek pada tiga pekan terakhir ketika hujan mulai turun.

Untuk mengantisipasi potensi longsor di musim penghujan, Polres Trenggalek menyiagakan tim satgas bencana.

“Personel juga disiagakan jika sewaktu-waktu di butuhkan. Hari ini kita turunkan anggota baik dari Polres maupun Polsek jajaran untuk membantu pembersihan dan evakuasi,” kata Kapolres Trenggalek, AKBP Dwiasi Wiyatputera saat dikonfirmasi.

Dwiasi menambahkan, Polres Trenggalek juga mengintensifkan patroli di beberapa titik rawan longsor.

Berdasarkan pemetaan dari BPBD Trenggalek, ada beberapa titik di 45 desa dari 10 kecamatan masuk kawasan rawan longsor.

“Patroli ini dimaksudkan untuk memetakan sekaligus antisipasi kerawanan yang ditimbulkan akibat bencana alam berikut progres apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi fatalitas korban,” pungkasnya.

Sekretaris BPBD Trenggalek, Tri Puspita Sari mengatakan, puluhan desa itu berada di Kecamatan Watulimo, Tugu, Trenggalek, Pule, Panggul, Munjungan, Kampak, Durenan, Dongko dan Kecamatan Bendungan.

“Secara global ada berapa titik krusial rawan longsor yang harus di waspadai ketika musim penghujan, yaitu 45 desa di 10 kecamatan,” ujarnya.

Titik terbanyak potensi rawan longsor saat musim penghujan dari 45 desa tersebut ada di Kecamatan Pule dengan jumlah sebanyak 10 desa. Titik rawan longsor itu berada di Desa Joho, Jombok, Karanganyar, Kembangan, Pakel, Kembangan, Pule, Sidomulyo, Sukokidul dan Desa Tanggaran.

Untuk meminimalisir resiko bencana, BPBD sudah mengambil beberapa langkah. Diantaranya adalah memberikan beronjong kepada desa rawan longsor.

Serta mengajukan anggaran untuk rehabilitasi dan rekonstruksi kerusakan akibat bencana ke BNPB dan BPBD provinsi hingga meningkatkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat di daerah rawan bencana.

“Yang lebih penting meningkatkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat di daerah rawan bencana dengan pembentukan Destana ( Desa Tangguh Bencana ), dan juga pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana ( SPAB ) dan pemasangan rambu jalur evakuasi,” imbuhnya.

Mengacu evaluasi yang dilakukan BPBD bersama tim reaksi cepat atau relawan tiap tiga bulan sekali.

Baca Juga: SPI Dinilai Tak Terbuka, Ada yang Janggal saat Dewan Sidak

Baca Juga: Dapat Bisikan Gaib, Warga Ponorogo Bongkar Makam Istri

Banjir ataupun tanah longsor di Trenggalek disebabkan curah hujan tinggi di daerah pegunungan.

Untuk itu, koordinasi semua pihak termasuk peran serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk penanggulangan bencana.

“(Jadi) meningkatkan peran Pentahelix (pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media dan akademisi) dalam penanggulangan bencana,” pungkasnya.

Reporter : Angga Prasetya
Editor : Irwan Maftuhin

Editor: Koran Memo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X