• Kamis, 27 Januari 2022

Isma Rofi, Perajin Batok yang Bertahan di Tengah Impitan Pandemi Covid-19

- Jumat, 26 November 2021 | 05:05 WIB
Isma Rofi dengan produkmya kerajinan berbahan baku batok kelapa. (Aziz/memo)
Isma Rofi dengan produkmya kerajinan berbahan baku batok kelapa. (Aziz/memo)

Tunjukkan Lewat Getok Telur Kampung Batok Masih Tetap Eksis
Blitar, koranmemo.com - Pandemi Covid-19 benar-benar membuat perajin Kota Blitar kelimpungan. Salah satunya kerajinan berbahan dasar batok kelapa.  Isma Rofi, warga Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar saat ini dengan sekuat tenaga berusaha bangkit.

Di Kelurahan Tanjungsari ada sebuah sentra produsen kerajinan batok yang sudah punya nama. Kampung Batok, begitu sebutannya sudah menjadi ikon kerajinan di Kota Blitar. Di kelurahan ini ada sejumlah warga yang memproduksi kerajinan berbahan baku batok kelapa. Batok kelapa dibuat menjadi tas, aksesori ruang tamu dan lain sebagainya.

Berbicara soal Kampung Batok tak lepas dari kiprah Isma Rofi. Dia adalah pionir atau pelopor kerajinan batok di sana. Usaha kerajinan batok kelapa dimulai pada 2009 lalu. Terinspirasi karena banyaknya batok kelapa yang kerap hanya untuk bahan pembakaran di dapur.

Baca Juga: Gasak Motor Saat Hadiri Tahlilan, Pria Asal Kauman Diamankan Polisi

Baca Juga: Percepat Herd Immunity, Ratusan Santriwati Disuntik Vaksin

Di tangan kreatif Rofi, akhirnya disulap menjadi kerajinan apik. Buah karyanya pun sempat diminati pedagang luar Jawa.

"Tetapi sejak ada pandemi kami sempat terkena dampaknya. Apalagi tak bisa mengirim produk akibat kena pembatasan kegiatan," keluhnya.

Ketika didera pandemi, akhirnya pria berusia 46 tahun ini pun mengambil keputusan berat. Karena terus merugi, dia akhirnya memutuskan untuk mengheantikan produksi. Untuk bertahan hidup, dia hanya mengandalkan produk stok saja.

"Iya sempat berhenti. Kalau diteruskan juga berisiko. Penjualan sepi karena dampak PPKM, tidak bisa kirim dan pemasukan pun seret," katanya.

 Dirinya sempat optimistis pada awal 2021 kondisi bisa normal. Tetapi apa kata, kondisi tetap tidak berubah. Angka kasus Covid-19 pun meninggi. Otomatis kiriman pun sempat mentok. Para wisatawan yang biasanya kerap mampir di Kampung Batok pun sepi mampring.

"Penyebabnya karena ada PPKM. Kan wisatawan dari luar kota juga tak bisa ke Blitar. Itu salah satu penyebabnya," katanya.

Akibatnya, kata Rofi, Kampung Batok pun sepi. Tak ada suara gerinda memoles batok. Praktis Kampung Batok pun sepi mampring. Padahal jika kondisi normal, wisatawan lalu lalang di kampung. "Penghasilan warga pun seret," jelasnya.

Kini satu-satunya cara untuk meyakinkan pasar adalah sosialisasi bahwasanya Kampung Batok masih ada. Meski tak seramai dulu. Sosialisasi itu melalui getok tular ke penjual hingga ke medsos. Kerja keras Rofi mulai membawa hasil.  

Oktober  menerima pesanan produk batok kelapa. Pesanan  datang dari Papua dan Maumere, Nusa Tenggara Timur ( NTT ). Jumlah produk yang dipesan tidak banyak.

"Belum bisa melayani pesanan dalam jumlah banyak. Kan sekarang kondisinya tenaga terbatas. Hanya saya yang mengerjakan mulai awal pengerjaan dan penyelesaian," katanya.

Reporter : Abdul Aziz Wahyudi

Editor : Della Cahaya

Editor: Koran Memo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sejam, Migor Rp 14 Ribu Ludes Diserbu Warga Blitar

Selasa, 25 Januari 2022 | 12:37 WIB

Kota Blitar Gandeng Asidewi Luncurkan Paket Wisata 

Minggu, 23 Januari 2022 | 11:15 WIB

Antusiasme Warga Tinggi, BPN Lanjutkan Program PTSL

Kamis, 20 Januari 2022 | 21:40 WIB

Hujan Angin Satu Jam, Pohon Timpa Dua Rumah di Blitar

Selasa, 18 Januari 2022 | 20:55 WIB
X