• Kamis, 27 Januari 2022

Antisipasi La Nina Bendungan Tugu Trenggalek Pertahankan Tinggi Muka Air

- Minggu, 28 November 2021 | 14:58 WIB
Bendungan Tugu Trenggalek  (angga/memo)
Bendungan Tugu Trenggalek (angga/memo)

 


Trenggalek, koranmemo.com - Bendungan Tugu Trenggalek mulai mengurangi kapasitas isi tampungan untuk menjaga tinggi muka air.
 
Langkah itu sebagai antisipasi dampak bencana hidrometeorologi akibat fenomena La Nina yang diperkirakan berlangsung hingga Februari 2022 dengan intensitas lemah-sedang.

“Kami sudah diperintah Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR untuk mengatur genangan atau tampungan, jadi harus disisakan untuk antisipasi fenomena La Nina,” kata Pejabat Pembuat Komitmen Bendungan Tugu Trenggalek, Yudha Tantra Ahmadi.

Yudha menambahkan, telah mengambil langkah dengan mempertahankan tinggi muka air Bendungan Tugu di angka 215 meter dari kapasitas maksimum 245 meter.
 
 
 
Tinggi muka air itu akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

“Isi bendungan tidak kita penuhkan. Ada sebagian yang tetap kita buang sesuai dengan saluran yang ada. Jadi ada sisa 30 meter dari elevasi (tinggi muka air) maksimum. Beberapa waktu lalu sempat naik 1 meter menjadi 216 meter setelah diguyur hujan deras,” imbuhnya.

Meskipun terjadi hujan deras di daerah hulu dua sungai besar yang mengalir di Bendungan Tugu, lanjut Yudha, tidak sampai mengakibatkan banjir di wilayah hilir.
 
Sebab, bendungan yang masuk proyek strategis nasional itu mereduksi banjir sehingga meminimalisir fatalitas bencana.

“Alhamdulillah hilir aman. Karena Bendungan Tugu jadi tameng pertama saat air (dari) Ponorogo melimpah. Di bendungan ini ada dua sungai besar, pertama Sungai Keser hulu di Pule dan sungai besar dari arah Ponorogo,” jelasnya.
 
 
Baca Juga: 6 Masalah Yang Sering Dialami Keluarga, Ini Rinciannya.

Yudha menjelaskan, Bendungan Tugu bisa mereduksi banjir di area hilir wilayah kota dengan mengontrol aliran air yang masuk ke Sungai Ngasinan.
 
Sebab, sungai yang melintas wilayah kota itu kerap meluap ke rumah warga saat terjadi hujan deras.

Pasalnya Sungai Ngasinan merupakan pertemuan dari tiga anak sungai. Yakni Sungai Tawing dari Kampak, Sungai Bagong dan Sungai Keser dari Tugu.
 
Tak ayal Sungai Ngasinan kerap meluap dan mengakibatkan banjir ‘tahunan’ di Bumi Menak Sopal.

“Reduksi banjir InsyaAllah sampek ke kota, sampek ke pertigaan yang masuk Sungai Bagong yang masuk ke Sungai Ngasinan, InsyaAllah masih aman. Kalau Bagong itu aliran sendiri juga masuk Ngasinan. Misal Bagong enggak kita tahan, udah banjir Trenggalek. Karena debit Bagong sama kampak besar ke Ngasinan. Ke Ngasinan pun sudah full,” ujarnya.
 
 
Baca Juga: Hujan Deras, Tiga Rumah di Batu Diterjang Longsor

Untuk itu, lanjut Yudha, mempertahankan elevasi air menjadi salah satu upaya untuk mencegah banjir di wilayah hilir.
 
Sebab, fenomena La Nina mengakibatkan bencana hidrometeorologi di Trenggalek.

Merujuk laporan BPBD Trenggalek pada tiga pekan di Bulan November, setidaknya ada sekitar 30 rumah terdampak bencana longsor dari 38 titik longsor.
 
 
 
Jumlah itu belum termasuk laporan banjir genangan yang merendam beberapa rumah hingga objek vital seperti pasar tradisional.

“Untuk itu kita mempertahankan elevasi, jadi nanti saat ada La Nina besar kita masih bisa menampung (debit air),” pungkasnya.

Reporter : Angga Prasetya

Editor : Achmad Saichu
 

Editor: Koran Memo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Waspada Varian Omicron, Ini Kata Bupati Trenggalek

Senin, 17 Januari 2022 | 18:16 WIB

Targetkan 2022 Tera Ulang Lebih dari 9 Ribu Sasaran

Minggu, 16 Januari 2022 | 10:33 WIB

Ini Keindahan Trenggalek yang Menggiurkan Investor

Minggu, 9 Januari 2022 | 12:00 WIB
X