• Sabtu, 21 Mei 2022

Saksi Sebut Terdakwa Tidak Memerintah Sisihkan Uang THL PDAM Kota Madiun

- Sabtu, 14 Mei 2022 | 13:11 WIB
Sidang lanjutan kasus dugaan penyalahgunaan biaya pembayaran Tenaga Harian Lepas (THL) PDAM Kota Madiun agenda pemeriksaan saksi dari JPU di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, kemarin (22/4/2022).
Sidang lanjutan kasus dugaan penyalahgunaan biaya pembayaran Tenaga Harian Lepas (THL) PDAM Kota Madiun agenda pemeriksaan saksi dari JPU di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, kemarin (22/4/2022).

Madiun, koranmemo.com - Mantan Plt Kasubag Pemasangan dan Pemeliharaan Sambungan Pelanggan (PPSP) Bagian Transmisi – Distribusi Direksi Teknik PDAM Kota Madiun Yoyok Yulianto mengaku terkait adanya penyisihan biaya pembayaran Tenaga Harian Lepas (THL), terdakwa tidak pernah memerintahkan melakukan penyisihan. Sebab, pola tersebut meneruskan pejabat Kasubag sebelumnya.

Hal tersebut terungkap saat Yoyok dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara dugaan penyalahgunaan biaya pembayaraan THL PDAM Kota Madiun tahun 2017-2019 yang menjerat mantan Kepala Bagian Transmisi dan Distribusi (Trandis) Sandi Kunariyanto di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, Jumat (13/5/2022). "Terdakwa tahu, tapi tidak memerintahkan," ujarnya.

Yoyok justru mengakui dirinya yang memproses biaya pembayaran Tenaga Harian Lepas (THL). Mulai mencairkan, menyisihkan, menikmati, menyimpan hingga membagi-bagikan kepada jajaran direksi setempat.

Baca Juga: Kejagung Kembalikan Berkas Perkara Indra Kenz, Ini Yang Dilakukan Bareskrim

Sejak Kasubag dijabat Rudiantoro (alm), dirinya selaku supervisi sudah diminta membantu mengurus pencairan pembayaran uang THL. Setelah dilakukan penyisihan, uang baru diserahkan kepada THL.

Selanjutnya, hasil penyisihan uang THL setiap pencairan dibagi-bagikan ke staf di Bagian Trandis sampai jajaran direksi, termasuk terdakwa.

Rinciannya, Staf, Bagian Keuangan, Bendahara dan Kepala SPI sekitar Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dan jajaran Direksi maupun terdakwa rata-rata Rp 400 ribu - Rp 500 ribu.

Baca Juga: Piala Thomas & Uber 2022: Kandaskan Jepang, Indonesia Siap Gilas India di Final

"Uang penyisihan saya bagi-bagikan dulu baru masuk kas. Saya menerima Rp 250 ribu dan total uang yang saya terima Rp 20 juta, yang sudah saya kembalikan ke Kejaksaan baru Rp 8,5 juta dan kurang Rp 11,5 juta," ungkap Yoyok di hadapan Majelis Hakim diketuai Tongani.

Adapun uang THL yang disisihkan yakni dari pekerjaan penutupan dan buka instalasi sebesar Rp 2 ribu, pasang baru Rp 9 ribu - Rp 15 ribu, Tera Rp 1.000, Tutup Boring Rp. 50 ribu. Untuk pekerjaan buka kembali boring tidak ada penyisihan.

Halaman:

Editor: Koran Memo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

5 Kursi Eselon II di Kabupaten Madiun Kosong

Selasa, 17 Mei 2022 | 20:06 WIB

Wabah PMK Ancam Penjualan Sapi di Kota Madiun

Sabtu, 14 Mei 2022 | 08:32 WIB
X