• Rabu, 5 Oktober 2022

Tradisi Ulur-ulur di Tulungagung Sudah Ada Sejak Jaman Kerajaan Majapahit

- Jumat, 24 Juni 2022 | 16:49 WIB
Serangkaian prosesi ritual dalam perayaan upacara tradisi ulur-ulur oleh masyarakat 4 desa di Kecamatan Campurdarat, Tulungagung. (isal/memo)
Serangkaian prosesi ritual dalam perayaan upacara tradisi ulur-ulur oleh masyarakat 4 desa di Kecamatan Campurdarat, Tulungagung. (isal/memo)

 

Tulungagung, koranmemo.com - Sejarawan dan Arkeolog, Dwi Cahyono mengatakan, tradisi ulur-ulur merupakan ritual yang dilaksanakan secara tahunan, dan sudah ada sejak era Kerajaan Majapahit.

Ritual ulur-ulur ini berkaitan dengan sektor pertanian, yakni distribusi satu sumber air dari Telaga Buret ke empat desa di Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung.

Maka dari itu selama pelaksanaan ulur-ulur selalu melibatkan masyarakat di empat desa tersebut, yakni Desa Sawo, Desa Gamping, Desa Ngentrong dan Desa Gedangan.

"Ritual ulur-ulur di Telaga Buret sudah ditetapkan sebagai ritual yang dianugerahkan sebagai warisan budaya tak benda. Karena tradisi ulur-ulur sudah ada sejak era Kerajaan Majapahit," kata Dwi Cahyono, Jumat (24/6/2022).

Baca Juga: Masyarakat 4 Desa di Tulungagung Rayakan Tradisi Upacara Ulur-ulur

Pelaksanaan tradisi ulur-ulur yang sampai saat ini masih dilakukan, ungkap Cahyono, tidak hanya dilakukan puluhan tahun lalu.

Sebab, jejak purba dari tradisi ulur-ulur sendiri diyakini sudah ada dari era Kerajaan Majapahit.

Hal itu didasarkan pada bagian barat dari Telaga Buret yang didapati adanya reruntuhan bangunan candi yang bahkan masih ada bekas bangunan pintu candi, lumpang batu, dan terdapat temuan arca Dewi Sri.

Ini merupakan sebuah petunjuk jika dulunya di dekat Telaga Buret terdapat bangunan suci Hindu yang berfungsi sebagai tempat pemujaan atas wujud syukur pada kesuburan alam di sektor pertanian.

Halaman:

Editor: Koran Memo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X