Peringatan 1000 Hari Wafatnya Gus Sholah, ini Sosok Pengasuh ke-7 Ponpes Tebuireng di Mata Gus Fahmi

- Minggu, 30 Oktober 2022 | 17:35 WIB
Gus Ipang memberikan sambutan dalam acara peringatan 1000 hari wafatnya Gus Sholah, di RS Hasyim Asy’ari, Sabtu (29/10/2022) malam. (ist)
Gus Ipang memberikan sambutan dalam acara peringatan 1000 hari wafatnya Gus Sholah, di RS Hasyim Asy’ari, Sabtu (29/10/2022) malam. (ist)

Jombang, koranmemo.com - Peringatan 1000 Hari Wafatnya KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), Pengasuh ke-7 Ponpes Tebuireng digelar di RS Hasyim Asy’ari, di lingkungan pesantren, Sabtu (29/10) semalam.

Dimata Pengasuh Pondok Pesantren Putri Tebuireng, KH Fahmi Amrullah Hadzik, sosok pengasuh Gus Sholah ini adalah pemimpin yang memiliki kedisiplinan serta memiliki keteguhan.

Beliau mempunyai keinginan yang betul-betul bisa membawa Pesantren Tebuireng menjadi lebih maju kedepan. Dengan melahirkan lembaga-lembaga seperti, MTs Sains serta SMA Trensains, Madrasah Mu’allimin, hingga ijasah S1 di Pendidikan agama Ma’had Aly Tebuireng.

"Gus Sholah melahirkan beberapa unit-unit Trensains yang sudah menjadi sekolah alternatif terbaik di Jawa Timur. Selama kepengasuhan beliau juga mewarnai para alumni-alumni pesantren sekarang ini," terang Gus Fahmi saat dihubungi, Minggu (30/10) pagi.

Baca Juga: Sarungan Bersama Santri, Wali Kota Kediri Jalan Sehat di Minggu Pagi

Dihimpun dari berbagai informasi dan sumber, Profil Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ke 7 ini lahir pada tahun 1942, KH Salahuddin Al-Ayyubi atau dikenal Gus Sholah, cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari terlahir pada tanggal 11 September. Putra ketiga dari pasangan KH A. Wahid Hasyim, Pahlawan Nasional dengan Ny. Sholihah putri KH Bisri Sansuri, tokoh besar NU sekaligus Pendiri Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang telah dikenal sebagai tokoh bangsawan dan ulama yang sangat menjunjung tinggi toleransi yang terbukti atas perbuataan dan perkataannya.

Selain memiliki cucu Gus Sholah, Putra Pendiri NU, Kyai Hasyim Asy'ari juga mempunyai cucu lainnya, yakni, mantan Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur beserta memiliki saudaranya lainnya, Nyai Aisyah Hamid Baidlawi, KH Umar Wahid, Nyai Lily Chodijah Wahid serta KH Hasyim Wahid.

Pada masa kecil almarhum Gus Sholah, lebih banyak tinggal bersama sang ibu, Ny. Sholihah di Pesantren Denanyar, dan terlindungi kala balatentara Jepang menjajah Indonesia, serta hidup bersama kakeknya, KH Bisri Sansuri, hingga meneladani ilmu-ilmu agama. Kemudian, di tahun 1947 beliau (Gus Sholah) diajak oleh ayahanda KH A. Wahid Hasyim, berpindah ke Ponpes Tebuireng, karena meneruskan tongkat estafet, Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari, dan hanya setahun, beliau bersama orang tua pindah ke Jakarta ketika KH Wahid Hasyim diangkat sebagai Mentri Agama Republik Indonesia di tahun 1950.

Semasa sekolah dasar, Gus Sholah belajar di SD KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi ) Jakarta Pusat, sedangkan ketika kelas 4, berpindah ke SD PERWARI (Persatuan Wanita Republik Indonesia) di Salemba Tengah. Dijenjang tingkat selanjutnya, Gus Sholah menekuni belajar di SMP Negeri 1 Cikini, Jakarta Pusat, dan setelah lulus melanjutkan di SMA Budut (Budi Utomo), selama disana beliau juga ikut andil dalam organisasi OSIS dan aktif di kepanduan Ansor dan akhirnya tamat SMA tahun 1962.

Baca Juga: Kota Bayu Juara Umum Kirab Pataka Jer Basuki Mawa Beya

Halaman:

Editor: Koran Memo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X