• Selasa, 26 Oktober 2021

Kampung Matematika di Desa Sobontoro, Kampung Yang Semula Kumuh, Disulap Jadi Kampung Edukasi

- Rabu, 13 Oktober 2021 | 07:00 WIB
Pembelajaran matematika di Kampung Matematika, Dusun Prayan Rt 8 Rw 9, Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu. (karang taruna desa sobontoro untuk memo)
Pembelajaran matematika di Kampung Matematika, Dusun Prayan Rt 8 Rw 9, Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu. (karang taruna desa sobontoro untuk memo)

Tulungagung, koranmemo.com - Di Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu, terdapat kampung yang saat ini dikenal sebagai kampung matematika. Namun siapa sangka, kampung tersebut dulunya lebih dikenal dengan kampung yang kumuh, bahkan juga sering banjir. Lantas, bagaimana kampung tersebut kini bisa berubah menjadi kampung edukasi bagi masyarakat sekitar?

Kampung matematika terletak di Dusun Prayan RT 08/09, Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu. Terlihat di kampung itu banyak corak warna - warni hiasan angka dan atribut berhitung pada dindingnya yang tentunya menarik mata. Di dinding kampung tersebut juga tersebar edukasi matematika bagi anak-anak sekitar.

Ketua Kampung Matematika, Pangestu Kartanurgana mengatakan, sebelum daerah ini menjadi kampung edukasi, daerah tersebut dulunya terkenal kumuh. Bila musim penghujan tiba, daerah itu seketika akan kebanjiran akibat banyaknya saluran air yang terhambat. Selain itu, dinding maupun pagar di kampung itu banyak sekali dihiasi lumut.

Tak ingin terus-terusan dicap sebagai kampung kumuh, akhirnya karang taruna Desa Sobontoro berfikir untuk membuat perubahan.

"Tentunya kami resah karena ada daerah seperti itu di Desa Sobontoro. Akhirnya dari situ kami membuat gagasan dengan merubah citra kampung kumuh menjadi kampung edukasi matematika pada tahun 2019," katanya.

Berkat niat perubahan yang didukung pemerintah desa setempat, daerah yang semula kumuh, akhirnya bisa berubah menjadi indah dan siap untuk dijadikan kampung edukasi.

Menurut Gana, sapaan akrabnya, dipilihnya matematika sebagai bahan edukasi di kampung tersebut lantaran matematika merupakan pelajaran yang menjadi momok menakutkan bagi pelajar utamanya anak - anak. Karena itulah, dia ingin menyajikan edukasi matematika dengan konsep belajar dan bermain.

Dia merasa, dengan menerapkan konsep tersebut, diyakini bagi anak - anak yang belajar matematika akan lebih mudah dalam memahaminya dan tentunya tidak membosankan. Maka tak jarang disela-sela pembelajaran, dia juga mengajak anak - anak untuk bermain permainan tradisional seperti dakon, engklek, gobak sodor dan permainan lainnya.

"Jumlah murid yang belajar di Kampung Matematika ini ada 20 anak dengan jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), dan tenaga pendidiknya ada 10 orang," ujarnya.

Gana mengungkapkan, awalnya ada kesulitan usai berhasil merubah kampung yang semula kumuh menjadi kampung edukasi. Dia kesulitan untuk mengumpulkan anak - anak yang mau belajar di tempatnya. Mengingat anak - anak SD lebih suka menghabiskan waktunya dengan bermain dibandingkan belajar.

Namun rintangan itu tidak membuatnya patah semangat. Dengan usahanya mengajak masyarakat, akhirnya banyak orang tua yang tertarik dan menitipkan anaknya untuk belajar matematika di sana. Bahkan, minat tersebut tidak hanya dari warga Desa Sobontoro saja, melainkan warga desa di sekitar Sobontoro yang mengetahui adanya Kampung Matematika di Desa Sobontoro kian tertarik untuk berkunjung dan menitipkan anaknya.

"Tentu kami senang respon masyarakat yang positif, apalagi pemdes dan juga Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dispendikpora) dan PKK Tulungagung juga mendukung aktivitas kami," jelasnya.

Respon positif yang didapatnya dari berbagai kalangan ini tentu membuat Gana dan pengurus lainnya turut optimis dengan Kampung Matematika ini. Hal itu tentu tidak disia-siakan yakni dengan mengikuti ajang lomba desa di tingkat provinsi untuk mewakili Kabupaten Tulungagung pada tahun 2021 ini.

Ikutnya Kampung Matematika pada ajang lomba tersebut berkat dorongan PKK Tulungagung yang mana merasa jika kampung edukasi ini menjadi terobosan pertama di Tulungagung, sehingga dirasa layak untuk bersaing di tingkat yang lebih tinggi. "Awalnya memang tidak menduga jika gagasan kampung edukasi ini merupakan yang pertama di Tulungagung," tuturnya.

Disinggung terkait apa harapan kedepan bagi Kampung Matematika di Dusun Prayan RT 08/09. Gana mengaku nantinya ingin jika Kampung Matematika di tempatnya bisa sebesar Kampung Inggris yang ada di Pare, Kediri.

Dalam hal ini, pihaknya juga ingin agar Kampung Matematika bisa menjangkau lebih luas lagi dan bisa menjadi pelopor bagi desa-desa yang lain untuk membawa perubahan di bidang pendidikan. "Atas hal ini tentu kami ingin menginspirasi kampung lain agar melakukan hal serupa," pungkasnya.

Reporter: Mochammad Sholeh Sirri
Editor : Della Cahaya

Editor: Koran Memo

Tags

Terkini

Oriza Satifa, Pesulap yang Suka Berwirausaha

Kamis, 14 Oktober 2021 | 07:00 WIB

Inovasi Petani Modern, Temukan Lampu Perangkap Hama

Kamis, 10 Agustus 2017 | 19:26 WIB

Tekan Penggunaan Herbisida, Ubah Rumput Jadi Karbon

Kamis, 5 Januari 2017 | 13:09 WIB

Manfaatkan Sisa Potongan Rambut Untuk Melukis

Jumat, 23 Desember 2016 | 12:21 WIB

Tamatan SD Ciptakan Lampu Unik

Selasa, 20 Desember 2016 | 12:15 WIB

Tak Hanya Menyimpan Barang Namun Juga Kisahnya

Rabu, 7 Desember 2016 | 14:34 WIB

Berisiko Tinggi, Minta Pemula Untuk Tidak Nekat

Minggu, 27 November 2016 | 14:02 WIB

Dewa Ruci Craft

Senin, 21 November 2016 | 14:10 WIB

Bayar PBB Bisa dengan Sampah

Selasa, 15 November 2016 | 14:14 WIB

Sulap Tinja Jadi Pupuk Organik

Minggu, 13 November 2016 | 14:33 WIB

Saat Pelajar “Berkenalan” dengan Alutsista

Kamis, 10 November 2016 | 13:46 WIB

Produknya Sudah Sampai Abu Dhabi

Senin, 7 November 2016 | 14:49 WIB

Dituduh Punya Ilmu Santet

Minggu, 6 November 2016 | 13:54 WIB
X