• Rabu, 8 Desember 2021

Cerita Eka Wulan Sari, Owner Makaroni Baper, Sukses Kembangkan Bisnis Sejak SMA hingga Biayai S-2 Mandiri

- Jumat, 15 Oktober 2021 | 07:00 WIB
Eka Wulan Sari pemilik makroni baper. (angga/memo)
Eka Wulan Sari pemilik makroni baper. (angga/memo)

Trenggalek, koranmemo.com - Jiwa berbisnis tampaknya sudah mendarah daging bagi Eka Wulan Sari pemilik Makaroni Baper. Berawal dari kesukaannya mengonsumsi makanan pedas, ia sukses mengembangkan bisnis yang dikelola sejak SMA hingga bisa melanjutkan jenjang perkuliahan strata dua (S-2) secara mandiri.

Berbicara soal pedas-pedas, kecintaan gadis asal Kecamatan Karangan Kabupaten Trenggalek itu sudah tak diragukan lagi. Dari kegemarannya mengonsumsi makanan yang menurut sebagian orang justru dihindari itulah bisnis perempuan kelahiran 5 Oktober 1997 itu dimulai.

Awalnya, Eka sapaan akrabnya, sering berburu jajanan bercita rasa pedas hingga super pedas untuk camilan keseharian. Demi memburu makanan favoritnya itu, tak jarang ia harus membelinya dari luar daerah Trenggalek.

Berburu kuliner yang dilakukan Eka hingga ke luar kota itu bukan tanpa alasan. Sebab, kala itu produk jajanan pedas di Bumi Menak Sopal, julukan Kabupaten Trenggalek belum banyak ditemui. Sontak saja, ide cemerlang untuk membidik peluang bisnis itu langsung terbesit di pemikiran Eka.

Pemikiran Eka kala itu sederhana. Bisa menikmati makanan kesukaannya tanpa harus susah mencari, sekaligus bisa meraup pundi-pundi rupiah. Sebab, ia menilai banyak masyarakat Trenggalek yang suka dengan makanan pedas-pedas.

Baca Juga: Cara Mengaktifkan Shopee Pay Later

Bahkan tak sedikit varian makanan pedas yang menawarkan tingkat kepedasan tertentu. Contohnya seperti ayam lodho, nasi gegok, pindang sapi hingga kuliner mie dengan takaran pedas level tertentu. Makanan itu semuanya identik dengan komposisi cabai diantaranya sekian banyak kuliner lainnya.

“Tapi belum banyak yang jualan camilan pedas disini. Jadi aku memulai dengan cara menjual produk camilan orang lain dari Trenggalek yang aku jual di Trenggalek,” kata Eka.

Produk yang dia beli dengan jumlah banyak itu oleh Eka dikemasi dengan porsi kecil dan dijual kembali. Dia menjajakan camilan itu dengan menitipkan di warung makan hingga di kafe yang ada di Trenggalek.

Tak disangka, respons makanan yang dia bawa di luar prediksinya. Camilan pedas-pedas itu laku keras hingga membuat Eka memiliki pelanggan tetap. Momentum itulah yang Eka manfaatkan dengan membuat produk sendiri. Saat itu dia membuat produk makaroni yang dia namai makaroni baper.

“Ternyata tidak gampang mengenalkan produk baru. Saat itu banyak pelanggan yang komplain. Kemudian saya cari-cari sampai ketemu komposisi yang pas,” ujarnya.

Komposisi yang dianggap pas itu menghasilkan produk yang sesuai Eka inginkan. Yakni camilan makroni tidak alot, rasanya enak dan pedasnya bisa bersaing dengan produk lainnya. Produksi kreasi Eka itu mulai dipasarkan sejak 2016, setelah Eka memulai bisnis camilan pedas sejak SMA kelas 2 pada 2015 silam.

“Lambat laun makaroni buatan saya mulai dikenal luas. Tak hanya di Trenggalek, tapi juga di wilayah kabupaten sekitar Trenggalek. Bahkan banyak agen yang ikut membantu penjualan. Terutama di luar kota seperti Tulungagung, Madiun, Kediri, Nganjuk bahkan sampai ke Samarinda,” kata Eka.

Baca Juga: 5 Game Esports yang Populer di Indonesia

Disaat penjualan produk olahan Eka mulai tinggi, dia tetap berusaha untuk menjualnya secara mandiri. Kala itu, dia juga tak jarang membawa jajanan itu ke sekolah untuk dikenalkan kepada teman-temannya. Dibantu orang tua dan kerabatnya, dia bisa menghasilkan ratusan kemasan makroni baper saban harinya.

“Bahkan dulu pas waktu ujian SMA, aku bawa banyak banget jajanan. Sampai sama guru dibilang kamu ini mau ujian apa mau jualan,” kelakar Eka mengenang cerita masa lampau saat Eka memasarkan produknya.

Eka mengaku, dari hasil jualan itu dia mendapatkan banyak pundi-pundi rupiah. Kondisi itu dia manfaatkan untuk belajar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tahun 2016 ia kuliah ambil jurusan program studi manajemen di Universitas Negeri Malang (UM).

“Saat itu biaya pendidikan masih ditanggung oleh orang tua. Tapi untuk biaya kos, makan sehari-hari dan kebutuhan hidup lainnya sudah dari uangku sendiri,” ucapnya.

Karena tinggal di luar kota untuk menempuh pendidikan, Eka melakukan pemasaran jarak jauh dan memasrahkan produksi camilan itu kepada ibu dan seorang kerabatnya. Saban pulang tiap seminggu sekali, dia tak lupa mengecek kualitas produksi agar berjalan aman dan lancar.

“Saban hari, saya tak pernah lepas untuk memasarkan produk secara online. Sebulan itu, saya bisa sampai habis Rp 500 ribu untuk paketan data. Untuk promosi di sosial media,” terangnya.

Usai lulus kuliah pada 2020 lalu, Eka memutuskan meneruskan studinya di kampus yang sama. Eka masuk pada jurusan yang sama di jenjang strata dua (S-2). Bedanya, saat ini Eka sudah bisa membiayai pendidikannya sendiri tanpa menggantungkan dari kedua orang tuanya.

“Kalau untuk S-2 ini, semuanya murni dibiayai dari hasil Makaroni Baper ini,” pungkasnya

Reporter : Angga Prasetya
Editor : Della Cahaya

Editor: Koran Memo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pantomim Mudah Dilakukan Untuk Semua Umur

Senin, 15 November 2021 | 21:14 WIB

Pekerjaan yang Cocok Sesuai Hari Lahir

Minggu, 14 November 2021 | 09:45 WIB

Inilah Hari Jelek untuk Bepergian yang Harus Dihindari

Minggu, 14 November 2021 | 09:42 WIB

12 November, Selamat Hari Ayah Nasional!

Jumat, 12 November 2021 | 09:15 WIB

Erna Wahyunani, Pengrajin Barang Rajutan

Kamis, 28 Oktober 2021 | 07:00 WIB
X