• Selasa, 26 Oktober 2021

Pembalakan Liar Pohon Sonokeling di Tulungagung Terus Meningkat

- Rabu, 13 Oktober 2021 | 18:25 WIB
Terlihat pohon Sonokeling yang diamankan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tulungagung usai tertangkapnya pembalak liar pohon sonokeling. (isal/memo)
Terlihat pohon Sonokeling yang diamankan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tulungagung usai tertangkapnya pembalak liar pohon sonokeling. (isal/memo)

Tulungagung, koranmemo.com – Aksi pembalakan liar di Kabupaten Tulungagung, terutama pohon jenis Sonokeling terus meningkat. Bahkan terus meningkat terutama ketika musim kemarau, dan menjadi ancaman kerusakan lingkungan jika terus dibiarkan.

Deputi Advokasi dan Investigasi Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Mangkubumi, Maliki Nusantara menyebut dua klaster. Yakni pembalakan liar di ruang milik jalan (Rumija) dan area hutan negara yang dikelola Perhutani.

Menurutnya, tren pembalakan liar pada musim kemarau cenderung meningkat, karena aksesnya lebih mudah dibanding ketika musim penghujan. "Memang pembalak liar itu hanya musiman," kata Maliki, Rabu (13/10).

Maliki menjelaskan, selain faktor musim, tren kenaikan pembalakan liar terhadap pohon jenis Sonokeling juga karena potensi ekonomi yang menggiurkan. Tahun lalu, harga kayu Sonokeling untuk kualitas export hanya kisaran Rp 6 Juta.

Namun saat ini, harga kayu Sonokeling kualitas ekspor bahkan sudah naik hingga dua kali lipat dari harga tahun lalu, mulai Rp 10 hingga Rp 13 Juta.

Menurut Maliki, para pelaku pembalakan liar seolah selalu tertantang dan cenderung melakukan sesuatu yang sudah jelas dilarang. Situasi itulah yang menurutnya sedang terjadi saat ini dan ia rasakan pada fenomena pembalakan liar pohon Sonokeling.

Pohon Sonokeling, menurutnya merupakan jenis pohon yang termasuk predikat Apendix 2, yang berarti statusnya terancam punah. Hal itulah membuat harganya yang kian melambung, sehingga mulai banyak diincar.

"Dalam satu tahun, pembalakan liar Sonokeling di Rumija itu yang terungkap rata-rata dua sampai tiga kali. Kalau di kawasan Perhutani, kami tidak tahu datanya," jelasnya.

Maliki mengungkapkan, para pelaku pembalakan liar pohon Sonokeling dilakukan pada siang dan malam hari. Model penebangan malam hari, dilakukan dengan modus penyamaran seperti yang terjadi di Rumija beberapa tahun lalu.

Saat itu pelaku pembalakan liar menyamar sebagai petugas yang hendak melakukan seleksi pohon yang tidak layak.

Sedangkan untuk aksi pembalakan di hutan negara yang dikelola oleh Perhutani, pelaku pembalakan liar melancarkan aksinya pada malam hari agar tidak tepergok warga.

Berdasarkan pengamatannya, pembalakan tersebut hanya dilakukan pada dua jenis kayu yakni Jati dan Sonokeling.

"Untuk jenis lain seperti mahoni, trembesi ataupun sengon, itu jarang sekali terjadi. Karena mungkin prinsipnya jika mencuri selain kayu Jati dan Sonokeling, tidak sesuai dengan resiko yang dihadapinya," ungkapnya.

Maliki belum bisa menjelaskan apakah potensi pembalakan liar terhadap pohon Sonokeling terus meningkat kedepannya. Menurutnya, kondisi itu tergantung dengan kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Selain itu, rumus pasar terkait supply and demand juga berpengaruh. Karena jika kebutuhan kayu Sonokeling tidak sebanding dengan jumlah yang ada saat ini, pasti harganya akan terus meningkat dan mendorong pelaku pembalakan liar semakin merajalela.

Namun, menurut Maliki kondisi itu akan berbeda jika ada gerakan untuk melakukan budidaya pohon Sonokeling, sehingga menjawab tuntutan permintaan yang tinggi.

"Kalau di Jawa saya rasa tidak bisa karena banyak rumah dan sedikit ruang terbuka hijau (RTH). Kalau di luar jawa masih dimungkinkan apalagi masih banyak lahan kosong," pungkasnya.(st7)

Reporter : Mochammad Sholeh Sirri
Editor : Irwan Maftuhin

Editor: Koran Memo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Antar Pesanan, Pengedar Sabu Diringkus Polisi

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 19:29 WIB

Bobol Rumah Tetangga Curi Ponsel, Pemuda Gaeng Dibui

Senin, 18 Oktober 2021 | 10:52 WIB
X