• Rabu, 30 November 2022

Tradisi Rambu Solo Suku Toraja, Ritual Pemakaman yang Menghabiskan Biaya Namun Tetap Dilestarikan 

- Kamis, 29 September 2022 | 10:35 WIB
Tradisi Pemakaman, Rambu Solo Suku Toraja (Instagram @visit_sulsel)
Tradisi Pemakaman, Rambu Solo Suku Toraja (Instagram @visit_sulsel)

koranmemo.com - Ada tradisi adat pemakaman Suku Toraja di Sulawesi Selatan yakni ritual  Rambu Solo. Rambu Solo dilakukan oleh masyarakat suku Toraja untuk menghormati orang yang meninggal dunia. 

Upacara Rambu Solo banyak mengeluarkan biaya yang besar. Setiap pelaksanaan upacara diharuskan menyembelih kerbau, babi, dan ritual pelaksanaannya memakan waktu yang sangat lama.
 
Jika tradisi Rambu Solo belum selesai dilaksanakan hingga tuntas, masyarakat Toraja beranggapan orang yang sudah meninggal belum sepenuhnya meninggal sehingga  mereka masih memperlakukan orang yang meninggal seperti orang sakit. 
 
 
Perlakuan selayaknya orang masih hidup tersebut contohnya seperti ditidurkan di atas ranjang tempat tidur serta diberikan makan dan minum.

Upacara Rambu Solo, dilakukan ketika matahari terbenam karena menurut masyarakat di suku Toraja matahari terbenam memiliki arti rasa duka usai orang yang kita sayang telah tutup usia. 
 
Upacara suku Rambu solo memiliki tingkatan atau strata dalam masyarakat. Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ini  tingkatannya :
 
Baca Juga: Resep Udang Rambutan Ala Chef Devina Hermawan. Lebih Enak Dari Mie Gacoan? Yuk Coba dan Buktikan Sendiri!

1.      Dissili’ merupakan pemakaman bagi masyarakat strata terendah dan teruntuk anak yang belum memiliki gigi.

2.      Dipasangbongi, untuk yang satu ini diperuntukan bagai rakyat biasa dan pelaksanaannya hanya dilakukan dalam satu malam.

3.      Dibatang atau Digoya Tedong, upacara Rambu Solo yang ini diperuntuk masyarakat kalangan bangsawan menengah, pelaksanaannya di bagi menjadi 3 jenis, dan jumlah kurban yang harus dikeluarkan babi mulai dari 3 sampai 7 ekor.
 
Baca Juga: Contoh Kata Sambutan Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2022

4.      Rapasan upacara untuk kalangan bangsawan tinggi, dan upacaranya dilakukan bukan hanya satu hari saja, melainkan dilakukan dua kali dalam satahun, jumlah kurban yang dikeluarkan babi atau sapi mulai dari 9 sampai 100 ekor.

Upacara Rambu Solo bukan hanya pemakaman saja, ada juga pertunjukan kesenian suku Toraja, biasanya masyarakat Toraja menyebutnya Rante (pemakaman) . Untuk Rante dilaksanakan di rumah.
 
Berikut ini proses dan tingkatan upacara Rambu Solo Suku Toraja :

1.      Ma’Tudan Mebalun, ini merupakan proses pembungkusan mayat dengan kain kafan, yang dilakukan oleh To Mebalun atau To Ma’kayo atau petugas khusus yang melakukan proses pembungkusan mayat.

2.      Ma’Roto proses yang satu ini yaitu menghiasi peti jenazah menggunakan benang perak dan emas

3.      Ma’Popengkalo Alang yakni proses diturunkannya jenazah kelumbung dan disemayamkan.

4.      Ma’Palao atau Ma’Pasonglo proses jenazah diantarkan dari tongkonan ke Lakkian atau biasa disebut area pemakaman.

Bukan hanya ini saja, masih ada lagi ritual-ritual yang harus dilakukan 3 tahun sekali setelah jenazah dimakamkan. Masyarakat sekitar menyebutnya Ma’Nene Dan ritual ini dilakukan secara bersamaan dengan warga desa lainnya, dikarenakan proses Ma’nene menghabiskaan waktu mencapai satu minggu. 
 
Ritual Ma’Nene masih bagian dalam ritual Rambu solo, tradisi ini dilakukan untuk membersihkan jenazah leluhur yang telah meninggal puluhan tahun atau pun ratusan tahun. Tidak hanya membersihkan tubuh jenazah saja, tradisi ini juga mengharuskan keluarga yang masih hidup mengganti pakaian jenazah.

Pelaksanaan Ma’Nene ini dilakukan pada bulan Agustus setelah musim panen, karna proses Ma’Nene tidak boleh dilakukan sebelum masa panen, masyarakat menganggap bisa membawa sial bagi hasil panen. 
 
Proses Ma’Nene diawali dengan berkumpulnya para keluarga yang masih hidup di Patane (kuburan berbentuk rumah). Setelah berkumpul semua keluarga, tetua atau Ne’Tomina akan membacakan doa dan keluarga pun harus mengorbankan minimal satu hewan, seperti babi atau kerbau. 
 
Lanjut tahapan selanjutnya membuka peti jenazah, dan dibersihkan tubuh jenazah serta mengganti pakaian jenazah. Saat pelaksanaan tersebut pihak keluarga laki-laki membentuk sebuah lingkaran dan menyanyikan lagu serta menari. Tujuan dari lagu dan tarian ini untuk memberi semangat para keluarga yang ditinggalkan.

Dari proses-proses tersebut kita bisa paham, bahwa Indonesia memiliki banyak adat istiadat yang harus kita hormati. Semoga bermanfaat.

Penulis: Devi Ervina

Editor: Koran Memo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X