• Senin, 29 November 2021

Mohammad Khanafi Kapten Persedikab Kediri: Selalu Ingat Pesan Ibu

- Rabu, 24 November 2021 | 13:41 WIB
Mohammad Khanafi, Kapten Persedikab Kediri.  (rizky/memo)
Mohammad Khanafi, Kapten Persedikab Kediri. (rizky/memo)

Kediri, koranmemo.com - Menjadi pemain sepak bola merupakan keinginan dari Mohammad Khanafi, pemain yang kini menjadi kapten Persedikab Kediri.

Ada banyak pengalaman pernah dirasakan oleh pemain yang lahir di Desa Sambi Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri ini. Salah satunya pernah membela beberapa klub yang ada di Jawa Timur.

Menariknya lagi, di klub berjuluk Bledug Kelud tersebut Khanafi disebut sebagai pemain senior secara umur dan dikenal sebagai bapak dari punggawa Persedikab

"Teman-teman menyebutnya gitu karena saya sering mengajak mereka dalam kegiatan salat maupun keagamaan. Itupun saya teruskan saat membela Persedikab di tahun 2018" jelas Mohammad Khanafi.
 
 
 
Pemain bernomor punggung 7 ini menceritakan, menjadi pemain sepak dia lakukan sejak kelas 4 SD dengan cara mengikuti Sekolah Sepak Bola (SSB) di Bayern Muning dekat rumahnya. 
 
Disitu, dia mulai mengetahui langsung tentang bermain sepak bola mulai dari teknik, taktikal, dan fisik. 

"Alhamdulillah ada banyak ilmu bermanfaat dan pengalaman yang sudah saya dapatkan," katanya. 

Seiring berjalannya waktu, Khanafi sapaan akrabnya mulai membela Persema Junior pada tahun 2014, Porprov Jatim 2015, Blitar United tahun 2015 hingga 2017. Selanjutnya di putaran pertama 2018 sempat membela Persesa Sampang dan putaran kedua dan mulai membela di Persedikab Kediri hingga saat ini. 

"Di tahun 2021 sempat ikut latihan Puslatda PON Jatim. Tapi bulan tiga saya keluar mengundurkan diri karena menikah," ucapnya. 

Pria kelahiran 1997 ini mengaku, bergabung di Persedikab merupakan sesuatu impian baginya karena ada teman-temannya yang juga bergabung salah satunya pemain bertahan, Sayyid Abbiyu Atma.
 
Padahal sebelumnya ada beberapa klub yang menginginkan dirinya untuk bergabung.

Namun bagi Khanafi Persedikab merupakan tim impiannya karena ia menilai bahwa tim berjuluk Bledug Kelud tersebut mengutamakan kekeluargaan dan tidak ada yang bersifat gengsi, bahkan ibadah pun juga sangat solid. 

"Disini saya mengemban sebagai kapten pasti bijak dalam bersikap seperti mengingatkan teman-teman seperti disiplin latihan," ujarnya. 

Tidak hanya itu, Khanafi juga meneruskan pesan dari pelatih kepala Tony Ho yang mengatakan bahwa disiplin itu nomor satu saat berlatih, sehingga di luar latihan tetap fleksibel dengan kegiatan lainnya. 
 
Meski demikian, dia juga harus tetap pada jalur yang tidak melenceng dari profesionalitas. Apalagi, Tony Ho juga sudah menerapkan peraturan ketat jam malam bagi pemain

"Biasanya ngopi dan nongkrong bersama dengan teman-teman diluar. Apalagi jika ada pemain baru gabung, otomatis kita ajak mereka agar kekeluargaan bisa terus solid dan terjaga," terangnya. 

Semenjak jadi pemain sepak bola, anak ketiga dari tiga bersaudara ini mempunyai cerita yang paling diingat dan tidak bisa dilupakan sampai saat ini yaitu saat membela Blitar United pada tahun 2016 di Jepara Jawa Tengah dalam pertandingan semifinal Liga 3 nasional. 

Dia mendapatkan kabar bahwa ibu nya  meninggal dunia karena mengalami sakit. ia pun juga disuruh untuk pulang, namun kabar meninggalnya tersebut didapatkan di Madiun saat perjalanan pulang. 

"Sebenarnya saya berangkat sempat tidak boleh dan ditahan sama ibu. Tapi karena profesional dan punya tanggungan, akhirnya saya tetap berangkat kesana walaupun itu berat," imbuhnya. 

Selain itu, Khanafi sempat pernah berhenti dari sepak bola karena masih mengingat perkataan ibunya yang selalu mendukungnya di sepak bola. Dia juga mengingat pesan-pesan ibunya yaitu "Jangan sampai berhenti menjadi sepak bola" karena hal tersebut merupakan cita-citanya dari awal yang harus dicapai.

"Pernah diberikan pesan dari beliau pada saat membela di Blitar United dulu yaitu saya tidak boleh bermain setengah-setengah, lebih baik bermain bola dengan benar, dan tidak meremehkan apapun," kenangnya.

Khanafi menyampaikan, ada pengalaman berkesan semenjak bermain di Persedikab mulai dari menjadi tuan rumah maupun bermain di kandang lawan yaitu sempat dicurangi oleh pengadil lapangan seperti tahun 2018-2019 di Brebes, Banjarnegara, Kudus, dan Tulungagung. 

Namun ia sempat bersyukur karena ada kekuatan doa yang kuat dan perjuangan pemain tidak pernah menyerah sehingga Persedikab tetap meraih kemenangan. 

"Alhamdulilah saya pernah jadi top skor di Persedikab di tahun 2018 dan 2019. Target saya tahun ini semoga tetap menjadi top skor dan yang penting membawa Persedikab bisa juara kompetisi Liga 3," tandasnya. 

Reporter : Rizky Rusdiyanto. 
Editor : Achmad Saichu

Editor: Koran Memo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Liga 1, Persik Kediri Tahan Persebaya Surabaya Tanpa Gol

Minggu, 28 November 2021 | 23:48 WIB

Liga 1, Persik Kediri Tahan Persebaya Surabaya Tanpa Gol

Minggu, 28 November 2021 | 21:46 WIB

Jadwal BRI Liga 1, Minggu 28 November 2021

Minggu, 28 November 2021 | 15:41 WIB

Jadwal BRI Liga 1, Sabtu 27 November 2021

Sabtu, 27 November 2021 | 16:27 WIB

Jadwal BRI Liga 1, Jumat 26 November 2021

Jumat, 26 November 2021 | 15:31 WIB
X