• Selasa, 26 Oktober 2021

Pasangan Tunanetra Asal Nganjuk Mencari Keadilan, Batalkan Sertifikat yang Telah Ganti Nama

- Rabu, 13 Oktober 2021 | 17:48 WIB
fNg-Tuna : Pasanganan tunanetra Azis Rahayu dan Bukhori (istimewa)
fNg-Tuna : Pasanganan tunanetra Azis Rahayu dan Bukhori (istimewa)

Nganjuk, koranmemo.com – Pasangan suami istri tunanetra Azis Rahayu dan Bukhori, asal Desa Sonobekel Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk, kini bernapas lega.

Ini setelah mereka mendengar kabar jika Majelis Hakim Pengadilan Negeri Nganjuk telah memutus bersalah AM oknum pengacara, dalam peristiwa hukum yang berkaitan dengan aset milik pasangan tunanetra tersebut.

Kisah pilu pasangan tunanetra ini berawal pada akhir tahun 2016 silam. Kala itu Azis Rahayu dengan segala keterbatasannya, meminta bantuan AM sang pengacara.

Bantuan itu untuk menyelesaikan pemasalahan dengan saudaranya, terkait harta warisan peninggalan mendiang ibu dari Azis Rahayu.

Yakni berupa sebidang tanah sawah dan pekarangan yang masing-masing seluas 1523 meter persegi dan 469 meter persegi.

Berdasarkan rasa percaya pada AM, pasangan tunanetra ini hanya menurut saja ketika ia diminta tanda tangan maupun membubuhkan cap jempol pada dokumen-dokumen yang disodorkan kepada mereka berdua.

Nahasnya, bukan penyelesaian yang ia peroleh, Azis Rahayu malah mendapati asetnya telah dijual kepada orang lain.

Peralihan aset tanpa sepengetahuan Azis Rahayu tersebut akhirnya mencuat ke permukaan. Setelah sempat viral di medsos, Satreskrim Polres Nganjuk bergerak cepat.

Tindakan proaktif dan protagonis Polres Nganjuk berbuah pada Putusan Pidana Majelis Hakim Nomor 178/Pid.B/2021/PN.Njk dengan mengganjar AM pidana penjara.

Tak tanggung-tanggung, dalam putusannya, Majelis Hakim menyita sertifikat dan uang senilai Rp205.000.000 dari penguasaan AM.

Dr. Wahju Prijo Djatmiko, SH Ketua Tim Penasihat Hukum pasangan tunanetra saat dihubungi melalui ponselnya, Rabu (13/10/2021), mengapresiasi kerja cerdas Unit Pidum II Satreskrim Polres Nganjuk dalam menyikapi permasalahan ini.

“Kami sangat mengapresiasi kerja keras sistem peradilan pidana negara, terutama Polres Nganjuk dalam membongkar tindak pidana yang tergolong cukup canggih ini,” ujar advokat yang akrab disapa Haji Wahyu ini.

Sebagai penasihat hukum pasangan tunanetra tersebut, lanjut Haji Wahyu, pihaknya telah menyiapkan langkah-langkah strategis.

“Langkah-langkah telah kita siapkan untuk membela hak klien kami agar aset- asetnya kembali ke genggamannya,” kata ahli hukum pidana alumni Undip Semarang ini.

Menurutnya, telah terbukti adanya rangkaian tindak pidana dalam pengalihan hak sertifikat antara Azis Rahayu kepada pihak lain.

Tentu saja hal ini menjadikan produk hukum yang berupa sertifikat dan peralihan haknya  mengandung cacat yuridis.

“Oleh karena itu, berlandaskan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang Nomor 21 Tahun 2020, klien kami hari ini mengajukan permohonan pembatalan semua sertifikat yang telah berganti nama pemilik itu,” ungkap Haji Wahyu.

Selain itu, dalam waktu dekat ini, Haji Wahyu akan mengirimkan somasi kepada semua pihak yang saat ini memegang sertifikat dari aset asal milik Aziz Rahayu, untuk segera menyerahkan sertifikat yang dalam kekuasaannya kepada pihak kepolisian.

Namun apabila tetap tidak ada itikad baik dari masing-masing pihak, maka tidak menutup kemungkinan akan melaporkan mereka.

“Jika tidak punya itikad baik, akan kami laporkan adanya dugaan perbuatan sebagaimana termaktub dalam Pasal 480 KUHP tentang penadahan,” tukas advokat yang sering menangani kasus-kasus kemanusiaan ini.

Editor : Muji Hartono

Editor: Koran Memo

Tags

Terkini

Gempar, Mayat Ditemukan Di Jembatan Kali Lanang

Senin, 25 Oktober 2021 | 11:21 WIB

Tertabrak Truk, Warga Pare Meninggal

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 10:12 WIB

Dahului Truk, Pemotor Asal Ngancar Tewas

Jumat, 22 Oktober 2021 | 15:01 WIB

Perbaiki Saluran, Warga Babadan Tewas di Sawah

Kamis, 21 Oktober 2021 | 18:39 WIB

Tertabrak Pikap, Pemotor Asal Kunjang Tewas

Kamis, 21 Oktober 2021 | 17:51 WIB
X