• Senin, 29 November 2021

Raden Mas Ngabehi Dwidjosewojo, Pencetus PGHB

- Kamis, 25 November 2021 | 13:08 WIB
Dwidjosewojo (tengah) bersama dua pendiri OL Mij PGHB, sebuah usaha asuransi jiwa pertama untuk anak negeri pada 1912. (Repro Dwidjosewojo 1867–1943: Tokoh Pergerakan Nasional Pendiri Bumiputera 1912). (Istimewa)
Dwidjosewojo (tengah) bersama dua pendiri OL Mij PGHB, sebuah usaha asuransi jiwa pertama untuk anak negeri pada 1912. (Repro Dwidjosewojo 1867–1943: Tokoh Pergerakan Nasional Pendiri Bumiputera 1912). (Istimewa)

koranmemo.com - Hari Guru Nasional diperingati setiap tanggal 25 November, untuk menghormati jasa guru yang telah mencerdaskan bangsa tanpa pamrih.

Namun tahukah kamu bagaimana organisasi guru pada masa sebelum kemerdekaan Indonesia dan siapa yang mencetuskannya?

Raden Mas Ngabehi Dwidjosewojo, merupakan seorang guru dari kalangan priyayi yang lulus dari kweekschool.

Baca Juga: Begini Cara Guru di Kediri Peringati Hari Guru Nasional

Baca Juga: Sejarah PGRI, Tonggak Awal Lahirnya Hari Guru Nasional

Saat itu, guru dari lulusan kweekschool lebih dipandang dan bergaji lebih besar dari pada guru anak negeri yang lulus dari sekolah lain.

Dengan latar belakangnya itu, menempatkannya dalam golongan elit anak negeri, baik secara finansial maupun sosial.

Ia juga menjadi sekretaris 1 organisasi Boedi Oetomo.

Ia yang juga seorang guru. Merasa prihatin dengan gaji guru yang tidak sama, terutama   guru dari kalangan anak negeri yang lulus dari sekolah selain kweekschool.

Saat itu guru terbagi menjadi tiga, guru dari warga eropa, guru dari anak negeri lulusan kweekschool, dan guru anak negeri dari sekolah lain.

Guru yang merupakan warga eropa mendapatkan gaji yang paling tinggi. Mereka juga biasanya mengajar untuk kalangan elit saja.

Hal inilah yang mendasari Dwidjosewojo untuk mengusulkan pendirian perkumpulan guru yang akan memperjuangkan hak-haknya.

Usulan itu memperoleh kata sepakat dari Karto Hadi Soebroto dan N. Boediardjo, rekan Dwidjosewojo.

“Bila kita mempunyai perkumpulan, kita akan memperjuangkan nasib dan derajat guru-guru bumiputera. Yang diperlukan sekarang adalah suatu kemauan dan kerja sama untuk saling bantu antara sesama guru untuk membentuk perkumpulan,” kata Karta Hadi Soebroto, dikutip Darmokondo, 13 November 1911.

Pendirian perkumpulan guru juga dipandang penting. Mengingat guru-guru golongan anak negeri belum mempunyai perkumpulan.

Sementara guru-guru Eropa telah mendirikan Nederlansch-Indisch Onderwijzers Genootschap pada 1893. Gerak perkumpulan itu cukup efektif dalam mencapai kepentingan mereka.

Setelah itu, Dwidjosewojo dan teman-temannya mengumpulkan lebih banyak guru. Maka berdirilah Perserikatan Goeroe Hindia Belanda ( PGHB ) pada 1 Januari 1912.

Karto Hadi Soebroto jadi ketuanya, Dwidjosewojo duduk sebagai sekretaris.

Seiring berkembangnya zaman, Organisasi ini kemudian berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia ( PGI ) pada 1932.

Saat Jepang mulai menduduki Indonesia, semua organisasi dilarang, sekolah-sekolah ditutup, sehingga PGI juga tidak lagi beraktivitas.

Baru setelah Indonesia merdeka, para guru membentuk kongres dan menyepakati meninggalkan organisasi guru yang berdasarkan ras, agama, atau latar belakang lain.

Sebagai gantinya mereka menyepakati untuk bergabung dengan Persatuan Guru Republik Indonesia ( PGRI ).

Reporter : Ahmad Bayu Giandika
Editor : Achmad Saichu

Editor: Koran Memo

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Varian Baru Covid-19 Mengancam, Ini Langkah Imigrasi

Minggu, 28 November 2021 | 17:44 WIB

Peringatan HMPI Diisi dengan Gerakan Penghijauan

Minggu, 28 November 2021 | 15:34 WIB

Rem Blong, Nyawa Pasutri Trenggalek Melayang 

Minggu, 28 November 2021 | 14:54 WIB

Kejar Level 1, Polres Kediri Gelar Vaksinasi di Ponpes

Minggu, 28 November 2021 | 06:02 WIB

Kecelakaan di Gampengrejo 4 Tewas, Begini Kronologinya

Sabtu, 27 November 2021 | 10:51 WIB

Ditabrak Motor, Karyawan PLN Asal Gedangsewu Tewas

Jumat, 26 November 2021 | 10:05 WIB
X